UMKM Lokal di Sinjai Menjerit, Tagihan Konsumsi Pekerja Proyek Sekolah Rakyat Diduga Belum Dibayar

Papan proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Lingkungan Tanassang, Kelurahan Alehanuae, Kecamatan Sinjai Utara. (Foto: El Paparazzi/doc)
banner 120x600

SINJAI, PERMATANEWS | Kabar mengenai dugaan tunggakan biaya makan pekerja proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sinjai mulai menuai sorotan.

Sejumlah pemilik warung makan lokal disebut mengalami kerugian hingga belasan juta rupiah akibat pembayaran katering yang belum diselesaikan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, para mandor proyek sebelumnya mendatangi warung makan warga untuk menjalin kerja sama penyediaan konsumsi bagi ratusan pekerja proyek.

Pada awal kerja sama, pembayaran disebut berjalan lancar. Namun, setelah beberapa bulan, tagihan mulai menunggak hingga akhirnya belum lagi dibayarkan.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi tersebut membuat sejumlah pelaku UMKM lokal terpukul.

Beberapa pemilik warung bahkan terpaksa menghentikan penyediaan makanan karena modal usaha mereka habis terserap untuk biaya operasional dan belanja bahan makanan.

“Sudah tidak sanggup lagi lanjut karena modal habis,” ungkap salah seorang pemilik warung yang mengaku kini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat pembayaran yang belum diterima, Minggu (10/5/2026).

Kasus ini pun memicu keresahan di kalangan pelaku usaha kecil di sekitar lokasi proyek.

Mereka berharap ada kejelasan dan tanggung jawab dari pihak terkait atas tunggakan yang disebut telah berlangsung cukup lama.

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada pihak penanggung jawab proyek masih terus dilakukan, guna memperoleh penjelasan resmi terkait dugaan tunggakan tersebut.

Diketahui, proyek pembangunan Sekolah Rakyat tersebut berlokasi di Lingkungan Tanassang, Kelurahan Alehanuae, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Proyek yang merupakan bagian dari program Presiden Prabowo Subianto itu memiliki nilai anggaran mencapai Rp245 miliar dan melibatkan ratusan pekerja, baik dari daerah setempat maupun dari Pulau Jawa.

Pembangunan proyek tersebut dikerjakan oleh PT. Nindya Karya KSO bersama PT. Bumi Perkasa Sidenreng.