Makanan MBG di Sinjai Diduga Busuk, Sekolah Keluhkan Kualitas

Paket MBG di Sinjai yang dikeluhkan sekolah karena lauk ayamnya diduga busuk. (foto: ist)
banner 120x600

SINJAI, PERMATANEWS | Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sinjai menjadi sorotan setelah sejumlah sekolah penerima manfaat melaporkan makanan yang dibagikan kepada siswa diduga tidak layak konsumsi.

Keluhan tersebut terutama mengarah pada lauk ayam yang disebut berbau, sehingga tidak dikonsumsi oleh sebagian siswa.

Keluhan itu disampaikan oleh pihak sekolah yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Mereka mengaku temuan lauk ayam dengan kondisi tidak segar terjadi lebih dari satu kali.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Anak-anak tidak mau makan karena ayamnya berbau. Kami khawatir ini berdampak pada kesehatan siswa,” ujar salah satu sumber, Kamis (29/1/2026).

Selain kualitas lauk, sekolah juga menyoroti aspek penyajian dan distribusi makanan.

Sejumlah paket MBG dilaporkan tiba dalam kondisi tidak tertata, bahkan kuah makanan bercampur dengan buah di dalam wadah, sehingga memunculkan kekhawatiran terkait standar kebersihan dan higienitas.

Menanggapi hal tersebut, pengelola Dapur MBG Sanjai yang melayani program ini membantah adanya unsur kesengajaan dalam penyajian makanan tidak layak.

Pengelola menegaskan bahwa seluruh makanan yang keluar dari dapur berada dalam kondisi baik.

“Tidak mungkin kami menyajikan makanan berbau, apalagi busuk, kepada anak-anak. Jika makanan dari dapur dalam kondisi tidak layak, maka seluruh 30 sekolah penerima pasti akan mengalami hal yang sama. Faktanya, mayoritas sekolah menerima makanan dalam kondisi baik,” kata pengelola Dapur MBG Sanjai, Heriwawan.

Heriwawan yang juga merupakan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan ini menambahkan bahwa evaluasi saat ini difokuskan pada tahap distribusi.

Medan menuju sejumlah sekolah yang cukup terjal diduga memengaruhi kondisi makanan selama proses pengantaran, khususnya untuk menu berkuah.

“Pada hari tersebut menu yang disajikan berkuah. Ada kemungkinan terjadi percampuran kuah dengan nasi atau buah di dalam ompreng akibat guncangan selama distribusi di medan yang sulit. Ini yang sedang kami identifikasi dan perbaiki,” ujarnya.

Berdasarkan data operasional, Dapur MBG Sanjai melayani 2.479 penerima manfaat yang tersebar di 30 sekolah di Kabupaten Sinjai.

Hingga saat ini, pengelola memastikan belum menerima laporan kasus keracunan makanan dari seluruh titik distribusi.

Meski demikian, sejumlah pihak mendorong agar pengawasan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis diperketat.

Pengelola Dapur Sanjai menyatakan komitmennya untuk melakukan perbaikan menyeluruh, mulai dari proses pengolahan, pengemasan, hingga distribusi, guna memastikan makanan yang diterima siswa aman, higienis, dan layak konsumsi.***