BINJAI, PERMATANEWS | Dari sebuah kampung kecil di Tandem, Binjai, Sumatera Utara, lahir seorang bocah kurus yang kelak menorehkan salah satu rekor paling ikonik dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Ia adalah Peri Sandria, lahir pada 24 September 1969, yang mengawali mimpinya hanya dengan lapangan tanah dan bola hasil patungan anak kampung.
Di tempat sederhana itu insting golnya ditempa. Bakatnya kemudian tercium hingga ia dibawa ke Diklat Ragunan pada 1986.
Tiga tahun di pusat pembinaan terbaik negeri itu mengubah hidupnya: fisik digembleng, mental dikeraskan, dan disiplin ditanamkan. Dari sana, Peri menembus gelanggang Galatama, memperkuat Krama Yudha Tiga Berlian, Assyabaab Salim Grup, hingga Putra Samarinda.
Namun puncak kisah “si anak kampung” datang ketika ia bergabung dengan Mastrans Bandung Raya pada 1994. Liga Indonesia musim perdana 1994/95 baru dimulai era ketika Perserikatan dan Galatama dilebur.
Di tengah euforia penyatuan itu, Peri tampil menggila: 34 gol dalam satu musim, menjadikannya top skor pertama Liga Indonesia. Rekor itu berdiri kokoh selama 22 tahun, sebelum akhirnya dipecahkan Sylvano Comvalius.
Setahun setelah rekor bersejarah itu, Peri mengantarkan Bandung Raya meraih gelar juara Liga Indonesia 1995/96, menegaskan statusnya sebagai salah satu striker lokal paling mematikan yang pernah dimiliki Indonesia.
Jejaknya di Timnas Indonesia pun tak main-main. Ia menjadi bagian skuad yang meraih medali emas SEA Games 1991 di Manila, menebar ancaman bagi bek-bek Asia Tenggara dengan gaya bomber klasik: lari tanpa kompromi, penempatan posisi cerdas, dan finishing satu sentuhan yang kejam.
Setelah gantung sepatu, Peri memilih jalan yang tak banyak diambil mantan pesepakbola: hidup sederhana.
Ia pernah melatih tim beranggotakan tentara dan kini menghabiskan hari-harinya mengurusi pembangunan musalah di lingkungannya.
Dari tanah kampung di Binjai hingga catatan emas Liga Indonesia, perjalanan Peri Sandria adalah pengingat bahwa legenda besar kerap lahir dari kaki anak desa yang tak pernah berhenti mengejar bola di senja hari.***







